Dear Diary,
Hai Di, udah lama Vella ngga nulisin kamu yah, banyak banget yang Vella mau ceritain ke kamu Di. Tadi pagi Vella sama temen-temen
ngomongin cowok masing-masing.
Di masih inget sama Evan kan? cowoknya Vella? Vella malu banget deh sama dia. Dia soalnya
nggak kayak cowok-cowok temen Vella yang lain Di.
Sebel deh sama Evan, bayangin deh Di semua minusnya Evan nih yah:
Minus 10 karena dia nggak punya handphone, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain punya handphone.
Minus 10 karena dia nggak dibolehin nyetir mobil sama ortunya karena belum 17, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain biar
sama-sama SMP udah boleh bawa sendiri!
Minus 10 karena dia itu rambutnya cuma cepak biasa, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain itu rambutnya gaya abhies.
Minus 10 buat dia karena dia itu nggak suka ketempat-tempat dugem Di, padahal Vella suka banget ke sana, malu banget nggak sih
punya cowok kayak gitu.
Minus 10 buat dia lagi Di, karena dia nggak punya satu pun jacket XSML, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain sering banget
belanja disana, kalau dia sih paling pake bajunya bangsa bangsa jacket yang merek FILA (idih banget nggak sich Di!).
Minus 10 banget (dan yang ini banget banget-banget) karena dia masih suka bawa makanan dari rumah buat makang siang ke
sekolah! Gila yah Di, malu-maluin banget nggak sih!
Sumpah yah Di, Vella malu banget sama dia, kayaknya mau putus aja deh Di.
Dear Diary,
Hari Ini valentine, pas Evan ke kelas Vella mau kasih kado, Vella cuma diem aja. Seharian itu Di, Vella ngindarin dia abis-abisan, dia
bingung gitu kayaknya Di, kenapa Vella ngindar terus.
Sampe rumah dia nelepon Vella, Vella males tapi ngomong sama dia Di, Vella suruh pembantu bilang ke Evan kalau Vella belum
pulang.
Dia nelepon 4 kali hari itu tapi Vella males nerima.
Kira-kira 3 harian deh kayak gitu, tiap di sekolah Vella ngindarin Evan pake cara ke WC cewek lah atau ngumpet-ngumpet lah, dan di
rumah Vella selalu nggak mau nerima telepon dari dia, kayaknya Vella bener-bener udah illfeel dan malu pacaran sama dia Di!
Akhirnya waktu itu hari Senin, seperti biasa pas di sekolah, Vella ngindarin dia. Pas pulang sekolah Vella ngumpul di kantin sama
temen-temen Vella.
Mereka pada nanya kok Vella ngindarin Evan terus Vella diem aja, tapi setelah didesak akhirnya Vella ngaku juga
Vella ngomong, "Ah bete banget gue sama tuh cowok, udah nggak ada modal mendingan gaul, dan mukanya setelah gue pikir-pikir
biasa banget, ya ampun kok gue dulu mau yah jadi sama dia? dipelet kali yah gue!!"
Tiba tiba semua pada diem dan ngeliat ke arah punggung Vella, Vella bingung dan nengok Di, ya Tuhan Di, ternyata ada Evan di
belakang Vella dan kayaknya dia denger yang Vella baru ucapin barusan.
Vella cuma bisa diem tapi Vella sempet ngeliat Evan
sebentar. Dia diem, mukanya nunduk ke bawah terus dia pelan-pelan pergi dari situ.
Vella diem aja, ada beberapa yang ngomong "Hayo loo Vel, dia denger lho!!"
Tapi ada juga yang ngomong, "Udahlah Vel, baguslah denger, nggak ada untungnya tetep sama dia, ntar elo juga bisa dapet yang
lebih bagus."
Bener juga yah Di, ya udah Vella cuek aja, syukur deh kalau dia denger. Dia mau minta putus juga ayo, mau banget malah Vella.
Dua hari pun berlalu Di, dan sejak saat Evan udah nggak berusaha nyamperin Vella di sekolah atau nelepon Vella. Tiap ketemu di
sekolah dia cuma diem dan ngelewatin Vella aja.
Seminggu berlalu, 2 minggu berlalu sejak hari itu, Vella mulai ngerasa ada sesuatu yang ilang Di, nggak tau kenapa Vella mulai
ngerasa kehilangan sesuatu, kadang-kadang Vella suka bengong bingung sendiri, cuma Vella berusaha ilangin perasaan itu.
Vella
nggak tau kenapa jadi males kemana mana, pengennya sendiri aja, males ngapain. Semua orang jadi bingung kenapa Vella berubah
jadi kayak gini. Vella sendiri juga nggak tau kenapa Di.
Dear Diary,
Minggu malem nih Di, Ujan deres banget, Vella diem dan ngerenung di dalam kamar. Tiba-tiba di channel V ada lagunya Janet
JaCkson Di! Tau kan liriknya?
Doesn't really matter what the eyes is seeing,
Cause im in love with the Inner being.
Saat itu tiba-tiba Vella nangis Di, Vella baru sadar... Betapa baiknya Evan... Vella nangis senangisnya Di, karena Vella baru sadar
betapa begonya Vella...
Minus 10 karena Evan nggak punya HP Di, tapi plus 100 karena dia tiap malem rela jalan jauh ke wartel buat Nelpon Vella ngucapin
selamat tidur setiap hari...
Minus 10 karena dia nggak dibolehin nyetir mobil sama ortunya karena belum 17 Di, tapi plus 100 karena tiap malem minggu dia rela
naik sepeda jauh dari kemang ke bona indah khusus ngapelin Vella biar ujan sekalipun...
Minus 10 karena dia rambutnya cuma botak biasa dan nggak suka di spike, tapi plus 100 karena dalam keadaan rambut Vella apapun
baik bagus maupun lagi jelek, mau salah potong atau salah blow atau salah model dia selalu bilang Vella cantik banget...
Minus 10 karena dia nggak suka ke tempat dugem Di, tapi plus 100 karena dia rela nemenin Vella ke tempat-tempat kayak gitu, meski
dia nggak suka dan rela dimarahin ortunya karena pulang pagi nemenin Vella... dengan naik taksi ke rumahnya...
Minus 10 karena Evan nggak punya jacket XSML dan hanya punya jacket FILA biasa, tapi plus 100 karena kalau ujan di sekolah dia
selalu minjemin Vella jacketnya meski dia sendiri kedinginan...
Minus 10 karena dia bawa makan siang ke sekolah, tapi plus 100 karena ternyata nabung uang jajan makang siangnya buat beli kado
valentine buat Vella...
Dari 60 minus yang Evan punya Di, dia punya 600 Plus di hati Vella... dari 1000 kekurangan Evan, dia punya semilyar kebaikan...
ya Tuhan Di, betapa begonya Vella yah...
Vella yang berutung sebenernya punya cowok Evan, dan Vella juga yang nyakitin Evan,
padahal nggak pernah sekalipun dia nyakitin Vella. Malemnya Vella nangis lama banget Di.
Dear Diary,
Vella ketemu sama Evan di sekolah. Vella kejar dia dan bilang Vella mau ngomong, Evan diem aja, tapi pulang sekolah dia nanya Vella
mau ngomong apa. Vella kasih dia kartu buatan Vella, Vella cium pipi dia dan Vella bilang minta maaf karena Vella udah nyakitin dia.
Dia cuma diem aja terus pulang... Vella cuma bisa diem karena sadar, Vella yang berbuat, Vella juga yang kehilangan...
Sakit banget
rasanya Di, Vella pulang sekolah nangis tapi juga sadar itu semua Vella yang bikin dan Vella pula yang nanggung resiko-nya...
Malem itu tiba tiba mama ngetok pintu kamar Vella, katanya ada telepon.
Ternyata bener Di, itu Evan, dia udah maafin Vella, dia udah
lupain semuanya...
aduh Di, girang banget hati Vella, hi hi hi senengnya.
Nanti malem Evan mau kesini Di, dan Vella mau dandan secantik-cantiknya buat Evan, jadi Vella udahan dulu yah Di...
thanx banget
udah denger curhat-nya Vella, Vella belajar satu hal Di:
Hargailah apa yang kamu miliki sekarang,
Karena tanpa kamu sadari,
Kamu begitu beruntung telah memiliki-nya.
Selamat malem diaryku...
NB: Minus 10 Di, karena mukanya tidak tampan, tapi plus 100 karena hatinya luar biasa tampan...
~ Vella-Nya Evan ~
Doesnt' Really Matter what The eyes is seeing cause im in love with the Inner being.veil...
Sabtu, 26 Juli 2008
cinta ibu kepada anak
cinta orang tua
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar
dan anak lelaki yang senang bermain-main di
bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon,
memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan
rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon
apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah
tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan
pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia
mendatangi pohon apel.
Wajahnya tampak sedih.
"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta
pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan
pohon lagi." jawab anak lelaki itu.
"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak
punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak
punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua
buah apelku dan menjualnya. Kau bisa
mendapatkan uang untuk membeli mainan
kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik
semua buah apel yang ada di pohon dan pergi
dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak
lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel
sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon
apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.
"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal.
Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau
boleh menebang semua dahan rantingku untuk
membangun rumahmu." kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan
dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan
gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia
melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu
tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa
kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang
lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita
menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon
apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua
dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur
dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh
memotong batang tubuhku dan menggunakannya
untuk membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon
apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia
lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang
menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah
bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu.
"Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk
mengigit buah apelmu."
Jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki
batang dan dahan yang bisa kau panjat." Kata
pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab
anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang
bisa aku berikan padamu.
Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua
dan sekarat ini." Kata pohon apel itu sambil
menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata
anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk
beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama
meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring
dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan
akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar
pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum
sambil meneteskan air matanya.
apa sih inti crita ini?
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel
itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita
senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan
mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan
sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun,
orang tua kiakan selalu ada di sana untuk
memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir
bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar
pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita.
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar
dan anak lelaki yang senang bermain-main di
bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon,
memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan
rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon
apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah
tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan
pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia
mendatangi pohon apel.
Wajahnya tampak sedih.
"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta
pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan
pohon lagi." jawab anak lelaki itu.
"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak
punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak
punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua
buah apelku dan menjualnya. Kau bisa
mendapatkan uang untuk membeli mainan
kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik
semua buah apel yang ada di pohon dan pergi
dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak
lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel
sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon
apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.
"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal.
Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau
boleh menebang semua dahan rantingku untuk
membangun rumahmu." kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan
dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan
gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia
melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu
tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa
kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang
lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita
menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon
apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua
dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur
dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh
memotong batang tubuhku dan menggunakannya
untuk membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon
apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia
lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang
menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah
bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu.
"Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk
mengigit buah apelmu."
Jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki
batang dan dahan yang bisa kau panjat." Kata
pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab
anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang
bisa aku berikan padamu.
Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua
dan sekarat ini." Kata pohon apel itu sambil
menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata
anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk
beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama
meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring
dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan
akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar
pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum
sambil meneteskan air matanya.
apa sih inti crita ini?
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel
itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita
senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan
mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan
sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun,
orang tua kiakan selalu ada di sana untuk
memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir
bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar
pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita.
cerita sedih..hikz hiks...
Sewaktu Boy dan Girl baru pacaran,
Boy melipat 1000 burung kertas buat Girl,
menggantungkannya di dalam kamar Girl.
Boy mengatakan 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan
hatinya.
Waktu itu...
Girl dan Boy setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka
berdua...
Tetapi pada suatu saat, Girl mulai menjauhi Boy.
Girl memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis...
ke Paris...Tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali2 itu...
Sewaktu Girl mau memutuskan Boy, Girl bilang sama Boy,
kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa.
Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua kalinya.
Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik.
Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan
bagaimana kehidupan kita setelah menikah...!!
Setelah Girl pergi ke Perancis,
Boy bekerja keras...
dia pernah menjual koran...
menjadi karyawan sementara...
bisnis kecil...
setiap pekerjaan kerjakan dengan sangat baik dan tekun.
Sudah lewat beberapa tahun...
Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya,
akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan.
Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Girl,
dia masih tidak dapat melupakannya.
Pada suatu hari... waktu hujan,
Boy dari mobilnya melihat sepasang orang tua berjalan sangat pelan di
depan.
Dia mengenali mereka, mereka adalah orang-tua Girl....
Dia ingin mereka lihat kalau sekarang dia tidak hanya mempunyai mobil
pribadi,
tetapi juga mempunyai villa dan perusahaan sendiri,
ingin mereka tahu kalau dia bukan seorang yang miskin lagi,
dia sekarang adalah seorang Boss.
Boy mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang
orang-tua
tersebut.
Hujan terus turun tanpa henti, biarpun kedua orang-tua itu memakai
payung,
tetapi badan mereka tetap basah karena hujan.
Sewaktu mereka sampai tempat tujuan,
Boy tercegang oleh apa yang ada di depan matanya, itu adalah tempat
pemakaman.
Dia melihat di atas papan nisan Girl tersenyum sangat manis
terhadapnya.
Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung2 kertas yang
dibuatkan
Boy.
Dalam hujan, burung2 kertas itu terlihat begitu hidup,
Orang-tua Girl memberitahu Boy,
Girl tidak pergi ke Paris,
Girl terserang kanker,
Girl pergi ke surga.
Girl ingin Boy menjadi orang,
mempunyai keluarga yang harmonis,
maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Boy dulu.
Girl bilang dia sangat mengerti Boy,
dia percaya kalau Boy pasti akan berhasil.
Girl mengatakan...
kalau pada suatu hari Boy akan datang ke makamnya
dan berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi.
Boy langsung berlutut,
berlutut di depan makam Girl,
menangis dengan begitu sedihnya.
Hujan pada hari itu terasa tidak akan berhenti,
membasahi sekujur tubuh Boy.
Boy teringat senyum manis Girl yang begitu manis dan polos,
Mengingat semua itu,
hatinya mulai meneteskan darah...
Sewaktu orang-tua itu keluar dari pemakaman,
mereka melihat kalau Boy sudah membukakan pintu mobil untuk mereka.
Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.
"Hatiku tidak pernah menyesal,
semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
beterbangan di dalam angin
menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit...
melewati sungai perak,
apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.
Masa lalu seperti asap...
hilang dan tak kan kembali.
menambah kerinduan di hatiku...
Bagaimanapun dicari,
jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.."
Boy melipat 1000 burung kertas buat Girl,
menggantungkannya di dalam kamar Girl.
Boy mengatakan 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan
hatinya.
Waktu itu...
Girl dan Boy setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka
berdua...
Tetapi pada suatu saat, Girl mulai menjauhi Boy.
Girl memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis...
ke Paris...Tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali2 itu...
Sewaktu Girl mau memutuskan Boy, Girl bilang sama Boy,
kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa.
Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua kalinya.
Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik.
Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan
bagaimana kehidupan kita setelah menikah...!!
Setelah Girl pergi ke Perancis,
Boy bekerja keras...
dia pernah menjual koran...
menjadi karyawan sementara...
bisnis kecil...
setiap pekerjaan kerjakan dengan sangat baik dan tekun.
Sudah lewat beberapa tahun...
Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya,
akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan.
Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Girl,
dia masih tidak dapat melupakannya.
Pada suatu hari... waktu hujan,
Boy dari mobilnya melihat sepasang orang tua berjalan sangat pelan di
depan.
Dia mengenali mereka, mereka adalah orang-tua Girl....
Dia ingin mereka lihat kalau sekarang dia tidak hanya mempunyai mobil
pribadi,
tetapi juga mempunyai villa dan perusahaan sendiri,
ingin mereka tahu kalau dia bukan seorang yang miskin lagi,
dia sekarang adalah seorang Boss.
Boy mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang
orang-tua
tersebut.
Hujan terus turun tanpa henti, biarpun kedua orang-tua itu memakai
payung,
tetapi badan mereka tetap basah karena hujan.
Sewaktu mereka sampai tempat tujuan,
Boy tercegang oleh apa yang ada di depan matanya, itu adalah tempat
pemakaman.
Dia melihat di atas papan nisan Girl tersenyum sangat manis
terhadapnya.
Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung2 kertas yang
dibuatkan
Boy.
Dalam hujan, burung2 kertas itu terlihat begitu hidup,
Orang-tua Girl memberitahu Boy,
Girl tidak pergi ke Paris,
Girl terserang kanker,
Girl pergi ke surga.
Girl ingin Boy menjadi orang,
mempunyai keluarga yang harmonis,
maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Boy dulu.
Girl bilang dia sangat mengerti Boy,
dia percaya kalau Boy pasti akan berhasil.
Girl mengatakan...
kalau pada suatu hari Boy akan datang ke makamnya
dan berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi.
Boy langsung berlutut,
berlutut di depan makam Girl,
menangis dengan begitu sedihnya.
Hujan pada hari itu terasa tidak akan berhenti,
membasahi sekujur tubuh Boy.
Boy teringat senyum manis Girl yang begitu manis dan polos,
Mengingat semua itu,
hatinya mulai meneteskan darah...
Sewaktu orang-tua itu keluar dari pemakaman,
mereka melihat kalau Boy sudah membukakan pintu mobil untuk mereka.
Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.
"Hatiku tidak pernah menyesal,
semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
beterbangan di dalam angin
menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit...
melewati sungai perak,
apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.
Masa lalu seperti asap...
hilang dan tak kan kembali.
menambah kerinduan di hatiku...
Bagaimanapun dicari,
jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.."
Kamis, 10 Juli 2008
seneng dan kesal..
cuma 2 perasaan itu yang gua alamin di hari hari gua saat ini...
kesel??
kenapa kesel?
kadang gua kesel banget kalo lagi di jalan mau ke tempat kerja..macet,panas.. tapi itulah perjuangan gua untuk mendapat uang..
kesel kadang kalo ada masalah ditempat kerja..bisa bikin gua strees kadang jadi ga mood kerja atau semua yang bisa menggangu kegiatan gua di tempat kerja..
ga bisa mengoverclock pc gua ke 3ghz lebih...(dasar luh PC dudul)
kesal juga kenaoa sampai saat ini gua belum bisa brubungan normal lagi ma cewe gua.............
seneng?
kenapa seneng ?
seneng gua kalo semua pekerjaan gua di tempat kerja lancar lancar aja..
seneng juga kalo sampai hari ini pun gua masih sehat (thanks god)
taulah awal bulan orang kerja pasti dapet imbalan.,hehehe..thanks yah MIP.inc
seneng juga kalo bisa ngebanggain nyokap dan bokap karna nilain UAN gua memuaskan...hahaha
tapi sesuatu yang mengganjal di kehidupan gua masih ada..
kadang slalu bikin gua tidur dini hari karna memikirkannya,,,
kesel??
kenapa kesel?
kadang gua kesel banget kalo lagi di jalan mau ke tempat kerja..macet,panas.. tapi itulah perjuangan gua untuk mendapat uang..
kesel kadang kalo ada masalah ditempat kerja..bisa bikin gua strees kadang jadi ga mood kerja atau semua yang bisa menggangu kegiatan gua di tempat kerja..
ga bisa mengoverclock pc gua ke 3ghz lebih...(dasar luh PC dudul)
kesal juga kenaoa sampai saat ini gua belum bisa brubungan normal lagi ma cewe gua.............
seneng?
kenapa seneng ?
seneng gua kalo semua pekerjaan gua di tempat kerja lancar lancar aja..
seneng juga kalo sampai hari ini pun gua masih sehat (thanks god)
taulah awal bulan orang kerja pasti dapet imbalan.,hehehe..thanks yah MIP.inc
seneng juga kalo bisa ngebanggain nyokap dan bokap karna nilain UAN gua memuaskan...hahaha
tapi sesuatu yang mengganjal di kehidupan gua masih ada..
kadang slalu bikin gua tidur dini hari karna memikirkannya,,,
jadi orang baik tuh susah!!!
ga tau kenapa hal ini terjadi di kehidupan gua...
susah banget jadi orang baik atau orang yang berguna bagi orang lain...
kenapa yah?
padahal kan itu salah satu perbuatan yang mulia...
kalo gua ceritain kejadiannya bakalan panjang banget dan ga berenti berenti lo baca..
susah banget jadi orang baik atau orang yang berguna bagi orang lain...
kenapa yah?
padahal kan itu salah satu perbuatan yang mulia...
kalo gua ceritain kejadiannya bakalan panjang banget dan ga berenti berenti lo baca..
Langganan:
Postingan (Atom)



